Berita

Semarak Jurangsapi Bondowoso, Ribuan Kue Cucur Jadi Simbol Persatuan dan Kemajuan Desa

Editor PB
×

Semarak Jurangsapi Bondowoso, Ribuan Kue Cucur Jadi Simbol Persatuan dan Kemajuan Desa

Sebarkan artikel ini
Jurangsapi Tapen
Tampak arak arakan gunungan kue cucur oleh masyarakat Jurangsapi Tapen Bondowoso saat acara Kadissah. Sabtu, 14/2/2026.(Foto; Dok. Yuniar/Portalbangsa)

Bondowoso, http://PORTAL BANGSA. CO. ID – Tradisi Kadhissah di Desa Jurangsapi, Kecamatan Tapen, Kabupaten Bondowoso, kembali digelar meriah dengan arak-arakan kue cucur yang sarat makna filosofi dan kearifan lokal.

Kepala Desa Jurangsapi, H. Hasbi, menyampaikan bahwa peringatan selametan desa tahun ini memiliki sejumlah hal menarik yang diharapkan dapat terus dilaksanakan setiap tahun. Salah satunya adalah arak-arakan kue cucur yang kini memiliki rute dan lokasi khusus di tanah desa yang tengah dibangun koperasi desa.

“Yang menarik tahun ini, arak-arakan kue cucur sudah memiliki lokasi tetap di tanah masjid desa yang juga sedang dibangun koperasi. Kantor koperasi sudah ada, ini yang ketiga kalinya kegiatan digelar di lokasi tersebut,” ujar H. Hasbi Hasidi saat dikonfirmasi Sabtu, (14/2/2026)

BACA JUGA :
Buka Pemusatan Diklat Paskibraka, Sekda Lumajang: Atur Ritme, Keseragaman dan Kekompakan

Menurutnya, kue cucur yang diarak bukan sekadar sajian tradisional, melainkan memiliki filosofi mendalam bagi pemerintahan dan masyarakat Desa Jurangsapi. Bentuk kue cucur yang memiliki bagian menonjol di tengah melambangkan kantor pemerintahan desa, sementara bentuk bulat di sekelilingnya melambangkan seluruh dusun yang mengitari dan mendukung pemerintahan desa.

“Filosofi kue cucur itu di tengah ada moncong, itu diibaratkan kantor pemerintahan desa. Yang bulat di sekelilingnya adalah dusun-dusun. Artinya, pemerintahan desa dan dusun harus satu, saling mendukung,” jelasnya.

Ia menambahkan, arak-arakan kue cucur yang diikuti perwakilan tiap dusun juga menjadi simbol tali persaudaraan dan kebersamaan masyarakat. Setiap dusun mengeluarkan gunungan dan kue cucur sebagai bentuk dukungan terhadap kebijakan desa serta kebersamaan antarwilayah.

BACA JUGA :
Pj.Bupati Bondowoso Tegaskan Dukung Program Berbasis Pesantren, Ada Apakah?

Jumlah kue cucur yang diarak pun jumlahnya mencapai ribuan . H. Hasbi Hasidi mengungkapkan, tradisi ini sekaligus untuk mengangkat kembali keberadaan kue cucur yang mulai jarang dibuat masyarakat.

“Kue cucur sekarang sudah jarang, bahkan bisa dibilang hampir punah. Dengan tradisi ini, kita angkat kembali agar tetap dikenal dan dilestarikan,” katanya.

Rangkaian Kadhissah telah dimulai sejak beberapa hari sebelumnya dengan pembacaan Rotibul Hajat di setiap dusun pada malam Jumat, dilanjutkan selamatan di balai desa dan doa bersama. Puncak kegiatan digelar melalui pawai kue cucur dan akan ditutup dengan shalawatan bersama pada malam hari.

BACA JUGA :
Dandim 0822 Bondowoso Hadiri Pisah Sambut Bupati Bondowoso, Ini Harapannya!

“Intinya semua untuk keselamatan desa, kebersamaan masyarakat, dan kemajuan desa ke depan,” tegasnya.

Selain itu, kegiatan selametan desa juga didukung penuh oleh swadaya masyarakat. Tercatat sebanyak 13 tenda berdiri secara mandiri dari desa dan masyarakat. Ke depan, lokasi tersebut juga direncanakan menjadi pusat kegiatan masyarakat seperti pasar Ramadan yang digelar setiap menjelang bulan puasa.

Tradisi Kadhissah sendiri menjadi agenda tahunan Desa Jurangsapi yang terus dijaga dan dilestarikan sebagai wujud syukur, doa keselamatan, serta penguatan persaudaraan masyarakat.