Berita

Ketua DPC Grib Jaya Bondowoso: Makanan Bergizi Tanpa Edukasi Hanya Jadi Solusi Semu

Editor PB
×

Ketua DPC Grib Jaya Bondowoso: Makanan Bergizi Tanpa Edukasi Hanya Jadi Solusi Semu

Sebarkan artikel ini
GRIB JAYA BONDOWOSO
KETUA GRIB JAYA BONDOWOSO JONI AP. (Foto.Dok: yuniar/portalbangsa)

BONDOWOSO, http://PORTALBANGSA.CO.ID — Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 dimanfaatkan sebagai refleksi mendalam terhadap arah kebijakan pendidikan, khususnya dalam program makanan bergizi di sekolah.

Ketua DPC GRIB JAYA Bondowoso, Joni AP, menegaskan bahwa program tersebut tidak boleh berhenti pada aspek distribusi makanan semata, tetapi harus menjadi pintu masuk transformasi kesadaran generasi muda tentang hidup sehat.

Menurut Joni AP, selama ini program makanan bergizi kerap diposisikan sebagai solusi instan untuk mengatasi persoalan stunting, anemia, dan rendahnya kualitas kesehatan peserta didik. Negara hadir melalui berbagai intervensi seperti pembagian susu hingga makanan tambahan di sekolah. Namun, ia mengingatkan bahwa pendekatan tersebut masih bersifat jangka pendek dan belum menyentuh akar persoalan.

“Pertanyaannya sederhana, apakah dengan diberi makan, anak-anak kita otomatis paham tentang gizi dan mampu menerapkan pola hidup sehat secara mandiri? Jawabannya belum tentu,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya membedakan antara intervensi gizi dan pendidikan bergizi. Intervensi hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan fisik, sementara pendidikan bergizi bertujuan membentuk pola pikir, kesadaran, dan perilaku jangka panjang.

“Tanpa pendidikan, program ini berisiko menjadi sekadar proyek karitatif. Kita memberi makan hari ini, tapi tidak membangun kesadaran untuk masa depan,” ujar Joni.

Lebih lanjut, ia mendorong agar pendidikan bergizi masuk dalam ruang-ruang pembelajaran yang lebih kritis. Tidak hanya sebatas slogan “makan sehat itu penting”, tetapi juga mengajarkan siswa memahami komposisi makanan, membaca label nutrisi, hingga mengkritisi pola konsumsi.

“Anak-anak harus diajak berpikir, kenapa makanan instan lebih murah dan mudah diakses? Siapa yang diuntungkan? Ini penting agar mereka tidak hanya jadi konsumen, tapi subjek yang sadar,” jelasnya.

Dalam konteks daerah seperti Bondowoso yang memiliki potensi agraris, Joni AP menilai pendidikan bergizi harus dikaitkan dengan kearifan lokal. Mulai dari menanam sayur, mengenal pangan tradisional, hingga mengolah hasil bumi sendiri.

“Itu bukan sekadar romantisme, tapi strategi membangun kedaulatan pangan sejak dini,” tambahnya.

Namun, ia juga menyoroti sejumlah tantangan struktural. Program makanan bergizi dinilai masih cenderung top-down, minim partisipasi masyarakat, dan kurang memperhatikan kondisi lokal. Sekolah sering hanya menjadi tempat distribusi, sementara guru dan orang tua belum dilibatkan secara optimal.

“Guru dibebani tanpa pelatihan, orang tua tidak dilibatkan, padahal pola makan anak banyak dibentuk di rumah. Ini yang harus dibenahi,” katanya.

Untuk itu, Joni AP menawarkan tiga langkah transformasi. Pertama, partisipasi aktif seluruh pihak—siswa, guru, dan orang tua. Kedua, kontekstualisasi program sesuai kondisi sosial dan budaya setempat. Ketiga, kesinambungan agar program tidak berhenti sebagai agenda tahunan semata.

Di akhir pernyataannya, ia menegaskan bahwa keberhasilan program makanan bergizi tidak cukup diukur dari angka statistik semata.

“Keberhasilan sejati adalah lahirnya generasi yang sadar, kritis, dan mandiri dalam menentukan pilihan hidup sehat. Pendidikan bergizi bukan pelengkap, tapi inti dari perubahan itu sendiri,” pungkasnya.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026.

banner 400x130