PROBOLINGGO, PORTALBANGSA.CO.ID – Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan perubahan zaman, tidak banyak anak muda yang memilih menekuni dunia budaya dan sastra. Namun jalan itulah yang dipilih Putra Kebudayaan Jawa Timur 2026 asal Kabupaten Probolinggo, Ibnus Shabil. Baginya, prestasi bukanlah tujuan akhir, melainkan pintu untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas melalui gerakan literasi, budaya, dan pendidikan yang ia bangun lewat Teman Sabil.(minggu 5/7/2026)
Komitmen tersebut tercermin sepanjang Mei hingga Juni 2026. Dalam kurun waktu dua bulan, Ibnus berhasil meraih lima prestasi tingkat nasional di bidang sastra. Ia menjadi Juara I Poetry Reading Competition DUA LOKA Universitas Mulawarman, Winner Lomba Baca Puisi Euphoria Art 4.0 Poltekkes Kemenkes Surakarta, Juara II Kreativitas Seni dan Sastra Nasional Universitas Negeri Malang, Juara I Pekan Seni Mahasiswa Universitas Brawijaya cabang baca puisi serta Juara Utama II Lomba Cipta dan Baca Puisi Tingkat Nasional yang diselenggarakan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Namun, bagi Ibnus, deretan penghargaan tersebut bukanlah pencapaian yang ingin berhenti pada lembar sertifikat dan piala. Berbagai pengalaman yang ia peroleh justru menjadi bekal untuk berbagi ilmu kepada masyarakat melalui seminar, workshop, diskusi sastra, bedah buku hingga pelatihan kepenulisan di berbagai perguruan tinggi dan forum nasional.
Kepercayaan itu mengantarkannya menjadi narasumber pada Webinar Nasional Media Literasi Indonesia-Internasional, Webinar Nasional “Mengulik Ide dalam Penulisan Puisi” Universitas Dharma Andalas, Coaching Clinic Essay High School National Competition, Bedah Buku Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Workshop Pendidikan, Coaching Clinic Brawijaya English Tournament, Podcast Seni Religi Universitas Brawijaya hingga berbagai forum sastra dan budaya.
Ibnus Shabil saat menjadi narasumber dalam salah satu workshop. (Foto : Ist)
Tidak berhenti di tingkat nasional, kiprah akademiknya juga menembus forum internasional. Ia dipercaya menjadi presenter pada International Conference on Language, Literary and Cultural Studies dengan mempresentasikan penelitian berjudul The Naming System of Pesantren in Malang: A Linguistic Landscape Study, sebuah kajian yang mengangkat penamaan pesantren sebagai bagian dari identitas budaya melalui perspektif linguistik lanskap.
Seluruh perjalanan tersebut kemudian bermuara pada lahirnya Teman Sabil, sebuah ruang kolaborasi yang dirancang bukan sekadar sebagai komunitas, melainkan gerakan kebudayaan yang mempertemukan budaya, bahasa, seni, sastra dan literasi dalam satu ekosistem pembelajaran yang berkelanjutan. Melalui program LIDAYA, Klinik BASASTRA, APRESI, NGOPI, RUMAH, dan SUARA, Teman Sabil mendorong setiap anggotanya untuk belajar, berdiskusi, berkarya, memperoleh apresiasi dan kembali berbagi ilmu kepada masyarakat.
Menurut Ibnus, budaya hanya akan tetap hidup apabila diwariskan dengan cara yang dekat dengan generasi muda. “Harapan terbesar saya, Teman Sabil tidak hanya dikenal sebagai sebuah komunitas, tetapi tumbuh menjadi gerakan kebudayaan yang mampu menghadirkan dampak nyata bagi generasi muda, khususnya di Kabupaten Probolinggo. Saya ingin ruang ini menjadi tempat siapa saja bisa belajar, berbagi, berkarya dan berkolaborasi tanpa memandang latar belakang. Ketika budaya, bahasa, seni dan sastra dikemas secara kreatif dan dekat dengan kehidupan anak muda, saya yakin generasi muda akan kembali bangga terhadap identitas daerahnya,” tuturnya.
Ia berharap Teman Sabil dapat membangun kolaborasi bersama pemerintah daerah, lembaga pendidikan, pegiat budaya, akademisi, perpustakaan hingga komunitas seni agar pelestarian budaya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi gerakan yang terus tumbuh dan memberi manfaat bagi masyarakat.
“Saya bermimpi suatu saat nanti ketika orang mendengar nama Kabupaten Probolinggo, mereka tidak hanya mengingat potensi wisatanya, tetapi juga mengenal bahwa dari daerah ini lahir sebuah gerakan kebudayaan yang mampu melahirkan karya, kolaborasi dan inspirasi bagi Indonesia. Karena budaya adalah identitas dan identitas harus kita jaga bersama,” tambahnya.
Ibnus Shabil saat meraih juara 1 baca puisi putra dalam Pekan Seni Mahasiswa Universitas Brawijaya tahun 2026. (Foto : Ist)
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Probolinggo Ulfiningtyas mengapresiasi konsistensi Ibnus yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga membangun ruang belajar bagi masyarakat.
“Prestasi yang diraih Ibnus menunjukkan bahwa ketekunan dalam belajar mampu mengantarkan generasi muda Kabupaten Probolinggo bersaing di tingkat nasional bahkan internasional. Yang lebih membanggakan, ia memilih kembali berbagi ilmu melalui seminar, workshop, dan Teman Sabil sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” ujarnya.
Sementara Bunda Literasi Kabupaten Probolinggo Ning Marisa Juwitasari Mohammad Haris, SE., MM. berharap langkah Ibnus menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkarya sekaligus mencintai budaya daerah.
“Literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis, tetapi juga keberanian melahirkan gagasan, berkarya dan memberi manfaat. Apa yang dilakukan Ibnus menunjukkan bahwa anak muda Kabupaten Probolinggo mampu membawa nama daerah sekaligus menggerakkan masyarakat melalui budaya dan literasi. Semoga semakin banyak generasi muda yang mengikuti jejak positif ini,” katanya.
Perjalanan Ibnus Shabil menunjukkan bahwa prestasi sejatinya bukanlah garis akhir sebuah perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Dari Kabupaten Probolinggo, ia memilih menjadikan setiap penghargaan sebagai jalan untuk menumbuhkan ruang belajar, memperkuat identitas budaya, dan mengajak generasi muda percaya bahwa karya serta kepedulian mampu melahirkan perubahan.(ir)














